SUARA INDONESIA JAWA TIMUR

Bus Feeder Trans Jatim Dapat Penolakan Supir Angkot, Respon Pj Bupati Bangkalan

Moh.Ridwan - 22 January 2024 | 17:01
Peristiwa Bus Feeder Trans Jatim Dapat Penolakan Supir Angkot, Respon Pj Bupati Bangkalan
Bus Feeder Trans Jatim yang akan digunakan untuk melayani rute Trans Bangkalan. (Foto: Moh Ridwan)

SUARA INDONESIA, BANGKALAN - Rencana Pemerintah kabupaten Bangkalan untuk mengoperasikan Bus Feeder Trans Jatim mendapat penolakan supir angkot. Pasalnya, dengan adanya angkutan massal itu dinilai menyebabkan kerugian ekonomi bagi supir angkot.

Salah satu Supir Angkot, Syaiful mengatakan Bus Feeder Trans Jatim bisa mematikan penghasilan para supir angkot. Sebab, selama ini kondisi angkutan umum di Bangkalan amburadul.

"Seharusnya sebelum meresmikan survei dulu ke lapangan. Bagaimana kondisi supir, tiap hari saja hanya menghasilkan Rp 30 ribu. Kalau menambah Bus angkutan massal, bisa hilang pekerjaan," keluhnya.

Situasi di lapangan, lanjutnya, penumpang semakin sepi. Belum lagi, banyaknya mobil plat hitam juga beroperasi mencari penumpang. Kondisi itu seharusnya pemkab Bangkalan bisa menertibkan.

"Masalah ini seharusnya bisa diselesaikan, bukan malah menambah angkutan massal. Plat hitam bisa ditertibkan, karena mereka tidak bayar trayek," ungkapnya.

Bus Feeder Trans Jatim merupakan bus pembantu milik pemkab Bangkalan yang digunakan untuk menghubungkan dengan rute Trans Jatim koridor V. Bus ini rencananya melayani rute Trans Bangkalan Bangkalan-Kamal, Bangkalan-Tanjung Bumi dan Bangkalan-Blega.

Bus feeder ini disiapkan untuk mendukung pengoperasian angkutan umum Trans Jatim Bangkalan-Surabaya Oktober 2024 mendatang. Sedikitnya, pemkab Bangkalan menyiapkan 3 armada bus feeder yang melayani rute Trans Bangkalan.

Sementara itu , Pj Bupati Bangkalan Arief M Edie merencanakan akan menata ulang angkutan umum, baik yang berplat kuning dan hitam. Untuk yang plat kuning nanti akan dibuat berkelompok. Mungkin 5 mobil menjadi satu kelompok dan pegang satu bus, dan mobilnya diminta berhenti beroperasi. Sedangkan yang plat hitam akan ditertibkan.

"Sopirnya bergantian, jadi tidak mematikan rezeki dari angkutan kota," jelasnya saat uji coba Bus Feeder Trans Jatim.

Terkait dengan pengelolaannya, Arief
mengatakan untuk biaya operasional termasuk BBM nantinya akan dikelola oleh Organda. Pihaknya juga sudah melakukan koordinasi terkait tarif tiket dengan pihak Organda dan telah disepakati untuk tarif flat sebesar Rp 7.000.

Tarif tersebut nantinya untuk biaya akomodasi seperti pengemudinya, perawatan termasuk kebutuhan BBM. Namun, nantinya akan tetap dievaluasi apakah bisa menutupi penghasilan dan biaya operasionalnya.

Terkait regulasi Trans Bangkalan sebagai feeder Trans Jatim yang dikelola oleh Organda, pihaknya akan segera menyiapkan  regulasi melalui Peraturan Bupati termasuk penggantian plat merah menjadi plat kuning sebagai transportasi publik. 

"Ke depan, pengelolaannya dapat bergantian dan tidak mematikan rezeki dari angkutan kota. Para kru angkot ini akan kita ajak kerja sama dalam mengelola trans Bangkalan melalui organda," tutupnya. (*)

» Klik berita lainnya di Google News SUARA INDONESIA

Pewarta : Moh.Ridwan
Editor : Alfiana Putri

Share:

Komentar & Reaksi

Berita Terbaru Lainnya