Aisyah, Perempuan Panutan yang Tak Sekadar Rupawan

Aisyah, Perempuan Panutan yang Tak Sekadar Rupawan
Suara Pembaca
Fanda Puspitasari, Wakil Ketua Bidang Pergerakan Sarinah DPP GMNI. (Foto: istimewa)

Oleh: Fanda Puspitasari
(Wakil Ketua Bidang Pergerakan Sarinah DPP GMNI)

Belum lama ini, penikmat musik Indonesia disuguhkan dengan lagu pop religi yang berjudul “Aisyah Istri Rasulullah”. Lagu tersebut mendapat sambutan hangat dari penikmat musik tanah air dan telah di cover berulang kali. Lagu dengan nada teduh dan “asik” didengarkan itu telah menjadi lagu religi terfavorit. Terutama pada moment Ramadhan tahun ini, yang berbeda wajah dari Ramadhan tahun-tahun sebelumnya lantaran pandemi, lagu tersebut telah mampu mengobati “kesepian” masyarakat. 

Lagu yang mengisahkan cuilan romansa penuh kasih antara Nabi Muhammad dengan istrinya Aisyah, menggambarkan romantisme kisah cinta yang indah dan penuh makna. Lirik lagu tersebut mampu membuat para pendengar berdecak takjub dengan kisah masa silam Nabi Muhammad dan Aisyah. Tidak hanya itu, lirik lagu tersebut juga mampu membuat pendengar merasa kagum dengan kecantikan dari Aisyah Binti Abu Bakar as Shiddiq.

Dari deretan nilai positif pada lagu Aisyah, ada beberapa hal yang perlu untuk di telaah lebih dalam lagi, yaitu pada bagian lirik lagu. Lirik yang tertuang pada harmonisasi nada dalam lagu tersebut menjadi disayangkan lantaran hanya sekadar melihat seorang Aisyah pada persoalan fisik saja, hanya berhenti pada penggambaran tampak luar. Meskipun memang nyata terdapat hadis yang meriwayatkan kecantikan Aisyah. Namun dibalik sosok rupawan Aisyah, banyak kisah perjuangan dan peranannya bagi peradaban Islam di masa itu, yang patut untuk dijadikan kisah teladan sepanjang zaman. Terlebih jika kisah itupun di kawinkan dengan lantunan nada yang apik pada lagu “Aisyah Istri Rasulullah”. Sungguh, akan menjadi lagu indah dan sangat mungkin mengilhami banyak orang yang mendengarkan.

Tulisan ini akan mengisahkan sekelumit riwayat Aisyah semasa ia hidup. Kisah hidup yang menggambarkan kecantikan seorang perempuan yang sesungguhnya. Aisyah merupakan sosok perempuan yang cerdas, baik itu dari segi intelektual maupun integritasnya, dan mempunyai wawasan luas, serta pejuang gigih yang senantiasa memperjuangkan nilai-nilai Islam. Aisyah merupakan perempuan yang terkenal akan kecerdasan dan khazanah keilmuannya. Peran Aisyah dalam sejarah Islam sangat strategis. Bahkan, dapat dikatakan bahwa Aisyah menjadi orang yang diperhitungkan akan peranannya di masa itu. 

Semasa hidupnya, Aisyah memiliki kontribusi sangat besar terhadap periwayatan hadist Rasulullah. Aisyah menjadi mercusuar penting dalam periwayatan hadist dan menjadi rujukan para sahabat sepeninggal Nabi Muhammad. Hal ini dikarenakan, selain Aisyah merupakan orang yang sangat dekat dan hidup bersama Nabi, ia juga memiliki ingatan yang tajam dan kuat. Hingga ia mengingat setiap jawaban Nabi atas pertanyaan yang diajukan oleh umatnya. Melalui Aisyah, para ahli hadist menukil lebih dari 2.200 hadist, yang sebagian besar tergolong  fard (hadist yang salah satu perawinya tunggal). 

Pernah dikisahkan, Aisyah mampu meluruskan atau membenarkan salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Kala itu ada sahabat yang memberi tahu Aisyah bahwa Abu Hurairah meriwayatkan hadist berbunyi, “Kesialan bersumber dari tiga hal; rumah, perempuan, dan binatang.” Lalu Aisyah berkata, “Abu Hurairah kurang perhatian. Ketika ia masuk Rasulullah bersabda, ‘Semoga Allah membinasakan orang Yahudi. Mereka mengatakan, kesialan bersumber dari tiga hal; rumah, perempuan, dan binatang.” “Artinya, Abu Hurairah hanya mendengar ujung hadist, tidak mendengar awalnya.” Hal tersebut dapat diartikan bahwa Aisyah merupakan sosok yang cermat dan teliti dalam mengamati peristiwa yang terjadi, termasuk ketika Nabi menyampaikan sabdanya. Dapat diartikan pula, Aisyah telah “menyelamatkan” umat muslim dari kesalahpahaman dalam memaknai hadist Rasulullah, yang notabene merupakan salah satu pedoman kehidupan umat muslim.

Keistimewaan serta kecantikan Aisyah terletak pada pikiran dan kepribadiannya yang patut diilhami. Aisyah merupakan salah satu teladan intelektual bagi perempuan di seluruh dunia, mercusuar ilmu, dan sangat menyukai ilmu pengetahuan. Kapasitas keilmuannya telah banyak memberikan kontribusi nyata pada perkembangan khazanah keilmuan. Pun demikian, banyak sahabat dan tabiin yang menimba ilmu kepadanya, beberapa diantaranya adalah Abu Hurairah, Ibnu Abbas, Ummi Kultsum, Abu Burdah, dan Urwah bin Zubair. Aisyah juga seringkali menjadi referensi dan rujukan bagi ulama Muslim dan para sahabat Nabi. Kepandaiannya yang unggul dan mumpuni, membuatnya menjadi tokoh perempuan yang melampauai zamannya.

Pengetahuan Aisyah yang begitu luas, membuatnya berperan penting dalam banyak bidang keilmuan. Berbagai ilmu yang dikuasainya antara lain ilmu Al-Qur’an, hadist, fiqih, tafsir dan asbab al-nuzul, ilmu Fara’id, ilmu kedokteran, ilmu kesusastraan serta menguasai bahasa Arab dengan sangat baik. Aisyah memiliki peranan penting dalam mendidik umat terutama generasi muda (sepeninggal Nabi), salah satunya terwujud dalam majelis ilmu yang ia dirikan. 

Aisyah juga seorang yang sangat memperhatikan dan peduli terhadap kehidupan umat pada masa itu. Sejarah turut mencatat akan kelembutan, kesabaran dan kedermawanan Aisyah. Ia senang bersedekah dan menolong sesama. Selain itu, Aisyah juga dikenal sebagai sosok yang kritis terhadap kemungkaran. Bakatnya yang juga sebagai orator ulung, tidak pernah lelah menyuarakan pembelaan atas kaum papa dan kurang beruntung. Aisyah pun tidak segan-segan memberikan kritikan tajam kepada setiap khalifah jika terdapat hal-hal yang dianggapnya kurang tepat.

Sepeninggal Nabi Muhammad, Aisyah terjun dan terlibat secara langsung dalam bidang politik. Salah satu sebab terjadinya “perpecahan” umat Islam pada masa itu, ditandai dengan Perang Jamal atau perang Unta yang memperhadapkan antara kubu Aisyah dan Ali bin Abi Thalib. Nama peperangan tersebut merujuk pada fenomena Aisyah yang memimpin pasukannya dengan menunggangi unta.

Pemicu dari adanya perang ini karena terjadi pembunuhan atas Khalifah Utsman bin Affan oleh segerombolan massa yang merasa tidak puas dengan kepemimpinannya. Utsman bin Affan merupakan sahabat Rasulullah. Bagi Aisyah, pembunuhan Utsman merupakan sebuah kedzoliman. Sehingga memunculkan tekad Aisyah untuk menegakkan keadilan atas pembunuhan Utsman. Kala itu kekhalifahan setelah Utsman digantikan oleh Ali Bin Abi Thalib. Saat itu Aisyah dan para sahabat lainnya melihat kelambanan Ali dalam menegakkan hukuman terhadap orang-orang yang membunuh Utsman, sehingga mereka menganggap Ali mengabaikan masalah pembunuhan Utsman. 

Dengan terpaksa, Aisyah “melawan” Khalifah Ali bin Abi Thalib untuk menuntut keadilan bagi Utsman. Meskipun pada perang jamal Aisyah menemui kekalahan, namun ia juga yang mampu mendinginkan keadaan. Aisyah menyerukan perdamaian dan persatuan diantara kedua pihak yang berperang. Konflik yang lebih jauh pun terhindarkan, karena baik Aisyah maupun Ali memahami posisi keduanya terimbas skenario adu domba. Meskipun sempat mengangkat senjata untuk saling menyerang, namun perang berakhir dengan damai.

Sejarah telah mencatat keistimewaan dari Aisyah dengan tinta dedikasi dan perjuangan. Keberanian, ketegasan, kewibawaan, kecerdasan, cakrawala pengetahuan yang luas, kedermawanan, kelembutan, dan kebaikan-kebaikan lainnya telah tersemat dalam kisah perjalanan hidup Aisyah. Aisyah merupakan seorang Ibu pendidik, pengasih dan pembela bagi umat kala itu. Peranan Aisyah dalam sejarah keilmuan, sosial dan politik Islam, pun menunjukkan bahwa Islam tidak membatasi perempuan untuk mengambil peran dalam berbagai bidang kehidupan. Aisyah adalah perempuan yang telah membuktikan, sejak berabad-abad yang lalu, perempuan dapat setara dan harus turut serta mengukir nasib dan masa depan peradaban manusia, dimana pada masa itu sangat berlawanan dengan agenda kelompok konservatif mengenai peran perempuan dalam Islam. 

Tulisan ini hadir tidak dengan maksud ingin menunjukkan kelemahan dan kekurangan lagu Aisyah. Melainkan lebih kepada memberikan telaah kembali akan esensi yang diangkat pada lagu tersebut. Lagu “Aisyah Istri Rasulullah” telah mampu menyita perhatian masyarakat secara luas. Maka, sungguh disayangkan jika lirik yang tertuang pada lagu itu kurang mampu untuk mendalami hikmah substantif yang dapat dipetik dari sosok Aisyah. 

Padahal, jika lagu tersebut juga dioptimalkan pada aspek makna dan didukung dengan pendengar yang luas, maka menjadi keniscayaan, melalui lagu itu akan banyak orang yang lebih mengenal Aisyah tidak hanya sebagai seorang isri yang rupawan, namun juga sebagai seorang istri/perempuan cerdas, pejuang, dan berdedikasi tinggi. Serta bukan hal yang mustahil, melalui lirik lagu tersebut, akan banyak orang yang terilhami dan tergugah untuk meneladani kebaikan-kebaikan yang ada pada Aisyah.  

Seorang Nabi Muhammad, tidak mungkin mementingkan wajah rupawan perempuan untuk di peristri. Namun diatas itu semua, istri yang layak mendampingi Nabi sebagai seorang “pejuang”, adalah perempuan pejuang pula. Perempuan yang memiliki perangai panutan, serta yang memiliki kecerdasan berpikir, kecerdasan emosional, serta kecerdasan juang yang tangguh dan kuat. Berada di samping Nabi untuk berjuang bersama dalam mendakwakan nilai-nilai Islam dan membangun peradaban manusia yang lebih baik. Romantisme Aisyah dengan Nabi, secara makna terletak pada perjuangan bersama demi masa depan umat manusia.

Persoalan kecantikan akan menjadi sia-sia jika ukurannya hanya pada wajah, yang tidak lama akan menua, lalu menyatu dengan tanah, tiada sisa, tiada kisah. Kecantikan yang hakiki adalah kecantikan yang terletak pada pikiran dan kepribadian, bukan terletak pada kecantikan wajah yang semu. Kecantikan wajah tidak mampu menorehkan tinta emas dalam lembaran sejarah. Kecantikan pikiran dan kepribadian lah yang akan mampu mengubah umat dan dunia. Untuk kelangsungan peradaban manusia, dan akan selalu tersemat dalam kisah abadi sepanjang masa.


Kontributor :
Editor : Swandy Tambunan
Publisher : Aulia Fasha
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar