Kolaborasi Melawan Pandemi

Kolaborasi Melawan Pandemi
Suara Pembaca
Muhammad Abdullah Syukri Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesai (PMII)

Oleh: Muhammad Abdullah Syukri
Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesai (PMII)

 

Seluruh dunia tergagap dilanda pandemi coronavirus disease 2019. Wabah virus telah mengakibatkan hilangnya nyawa dan mempengaruhi kehidupan miliaran manusia. Selain itu, pandemi bak menjadi ujian bagi solidaritas dan persatuan bangsa. Di skala industri misalnya, para pengusaha terus bergandengan tangan membantu yang membutuhkan. Mereka menyalurkan bantuan materiil untuk tenaga medis dan warga yang terkena dampak Covid-19. Kita juga dapat melihat maraknya gerakan warga bantu warga yang sedang massif digalang di seluruh seantero negeri dengan membuat hand sanitizer secara mandiri, membuat alat pelindung diri untuk tenaga medis untuk diberikan secara gratis, menyediakan tendon air berikut sabun cuci tangan untuk bisa digunakan masyarakat umum. Tidak sedikit juga inisiatif untuk membagikan makanan gratis untuk ojek maupun kurir.

Partisipasi aktif publik adalah energi melawan pandemi. China, Korea Selatan, Singapura dan banyak negara lainnya bisa bertahan melawan pandemi dengan mengandalkan partisipasi publik yang kuat. Gejolak semangat untuk bangkit dan menghadapi wabah Covid-19 bersama-sama memunculkan ragam inisiatif dari publik. Mewabahnya Covid-19 justru membangkitkan kepedulian antar masyarakat.

Kolaborasi Memperkuat Ketahanan Warga

Kunci menghadapi massifnya penyebaran wabah virus Covid 19 adalah menciptakan ketahanan warga. Konsep ketahanan dalam hal ini berkaitan dengan ketahanan pada aspek kesehatan hingga aspek sosial-ekonomi. 

Lalu apa yang bisa dilakukan oleh organisasi masyarakat sipil hingga organisasi mahasiswa, terkhusus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)? Sebetulnya PMII dapat berperan aktif dari ranah hulu hingga hilir kebijakan mitigasi pandemi. Ranah hulu dapat dimulai dengan memproteksi warga sekitar dengan menggalang dukungan, membentuk gugus tugas khusus mitigasi Covid 19, mengerahkan produsen untuk memproduksi masker dan instalasi cuci tangan kemudian dibagikan secara gratis, membangun kolaborasi dengan organisasi masyarakat dan pemerintah desa hingga pemerintahan pusat serta memberikan edukasi tentang protokol kesehatan untuk mencegah penularan yang semakin meluas.

Kesemuanya dapat dilakukan secara partisipatif bersama lapisan masyarakat lainnya. Pada ranah hilir kebijakan kita melihat bahwa pandemi ini mengakibatkan pertambahan angka kemiskinan yang jauh lebih besar dibandingkan saat resesi ekonomi pada 2008-2009, juga saat krisis moneter pada 1997-1999. Kondisi ini bahkan mengarah pada depresi besar global. Depresi besar (great depression) terakhir yang dirasakan warga dunia terjadi hampir 100 tahun lalu kini amat mungkin terjadi lagi. Ribuan warga berbondong-bondong meninggalkan kota untuk kembali ke tempat asal dibuktikan antara lain dengan data dari Dinas Perhubungan Jawa Tengah, yang menyatakan, terhitung sejak akhir Maret hingga menjelang akhir April, tercatat sedikitnya 320.435 pemudik dari banyak daerah sudah tiba di Provinsi tersebut.

Merujuk hasil survey The Abdul Latif Jameel Poverty Action yang dilakukan berturut-turut pada 29 Maret, 6 April, 13 April, dan 20 April menyebutkan bahwa migrasi dari kota ke desa atau daerah lain yang lebih kecil terjadi bukan hanya di Jawa, melainkan juga diluar Jawa. Migrasi dilakukan oleh pekerja dari semua tingkatan pendidikan, dari setingkat sekolah dasar hingga lulusan perguruan tinggi. Hal ini karena kehilangan pekerjaan dialami oleh pekerja di Jawa ataupun di luar jawa, juga di kota ataupun di desa.
Lonjakan migrasi yang besar ke desa tentu akan mempengaruhi stabilitas ketahanan pangan di pedesaan. PMII sebagai organisasi yang memiliki struktur di hampir seluruh Provinsi di Indonesia sebetulnya dapat terlibat dalam memastikan ketahanan pangan.

PMII harus hadir untuk memastikan sentra produksi pangan lokal dapat berjalan dengan efektif ditengah pandemi, memberikan stimulus kepada pemerintah daerah terkait kebijakan resiprosity pangan atau silang logistik kepada desa-desa yang kekurangan pangan serta dapat pula membangun sistem distribusi produk lokal dengan menggandeng start up lokal hingga nasional untuk memastikan pemasaran hingga meningkatkan pendapatan masyarakat yang terdampak akibat pandemi.

Pandemi dan Potensi Letupan Konflik Sosial

Surat kabar The Lily, yang diterbitkan oleh Koran The Washington Post, pada edisi 21 April 2020, menurunkan tulisan menarik berjudul I’m an Asian American doctor on the front lines of two wars: coronavirus and racism (Saya seorang dokter Amerika keturunan Asia di garis depan dua perang: Coronavirus dan rasisme).

Tulisan itu menceritakan pengalaman seorang perempuan dokter, Sojung Yi yang bekerja di ruang emergensi University of California, San Francisco, Amerika Serikat, untuk menangani pasien korban Covid 19. Sojung menceritakan, ketika pandemi Covid 19 makin merajalela di AS, dan korban-korbannya membanjiri rumah sakit, gelombang xenophobia dan rasis menyertainya. Pasien selalu bertanya, “Dari mana asal anda”, begitu melihat wajahnya yang ada garis Asia.

Mengapa xenophobia dan rasisme naik ke permukaan saat pandemi berlangsung? Secara psikologis, paparan penyakit menular memang cenderung dapat meningkatkan ketegangan rasial. Apabila di suatu  kawasan merebak wabah yang mudah menular, orang akan cenderung berpihak kepada komunitas yang sama entah itu warna kulit, ras, etnis, bahkan agama dan menolak orang atau komunitas yang berbeda.

Menurut studi yang diterbitkan oleh jurnal Social Psychological and Personality Science orang cenderung menunjukkan tingkat kesukuan tertentu dalam kehidupan. Hal itu juga terjadi dalam politik dan banyak aspek kehidupan lainnya. Orang juga cenderung takut pada hal-hal yang tidak mereka mengerti. Seringkali lebih mudah untuk membuat narasi yang sesuai dengan zona kenyamanan, kapasitas intelektual, atau ideology seseorang. Oleh karena itu, tidak mengherankan bahwa pandangan rasis atau xenofobik akan muncul dari ketakutan dan kecenderungan mempertahankan diri.

Apalagi jika kita kontekstualisasikan dengan kondisi Indonesia saat ini dapat terlihat bahwa penyebaran virus beriringan dengan dampak sosial-ekonomi yang ditimbulkannya. Dampak ini sangat rentan mengarah pada konflik dan kerusuhan sosial akibat ratusan orang kehilangan pekerjaan akibat penyebaran virus. Meski belum ada data yang jelas, sejumlah pengamat telah menuturkan faktor dominan yang mungkin bisa saja memicu terjadinya konflik, diantaranya perebutan sumber daya. Ketika sumber penyangga ekonomi masyarakat menghadapi masalah, maka perebutan akses dan penguasaan sangat mungkin terjadi.

Misalnya perebutan akses sumber bahan pokok yang merupakan kebutuhan dasar masyarakat terganggu. Pada konteks ini lah letupan konflik sosial akan terjadi.
Faktor berikutnya ketika struktur sosial masyarakat kurang proaktif memediasi potensi letupan konflik sosial. Misalnya peran tokoh masyarakat hingga organisasi masyarakat, terkhusus PMII sebagai organisasi mahasiswa.

Kita tak dapat hanya bertumpu pada peran aparat penegak hukum sebagai “mediator’ dari banyaknya potensi letupan konflik yang akan terjadi. Perlu ada sistem mitigasi yang komprehensif dengan menghadirkan ruang kontrol sosial yang melibatkan banyak pihak termasuk PMII. 

Pandemi sedang menguji komitmen kebangsaan yang selama ini digaungkan oleh PMII termasuk menguji komitmen memperjuangkan paham keislaman yang inklusif, kontekstual dan moderat dengan menjadi pelopor terdepan sebagai mediator dan berperan sebagai ruang kontrol sosial dengan mengedukasi masyarakat melalui diskusi konstruktif yang dibangun selama dan pasca pandemi. Hal tersebut semata-mata bertujuan untuk meredam potensi letupan konflik sosial yang akan terjadi.

Secara sumberdaya, PMII merupakan salah satu organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia dengan anggota aktif sebanyak 1.000.000 serta memiliki 250 Pengurus Cabang dan 24 Pengurus Koordinator Cabang yang tersebar di seluruh Indonesia.
Prinsip hablum minannas dan Rahmatan Lil Alamin yang selama ini menjadi falsafah dan landasan arah gerak organisasi untuk menebarkan rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh kalangan tengah diuji oleh wabah virus. Stimulus kolaborasi harus sudah disuntikkan guna menggerakkan sumber daya organisasi untuk bahu-membahu melawan pandemi.
Sebagai penutup tulisan ini, saya ingin mengutip pernyataan Yuval Noah Harari bahwa bahaya terbesar sebetulnya bukanlah virus itu sendiri. Kemanusiaan memiliki perangkat pengetahuan ilmiah dan alat teknologi untuk mengatasi virus.

Masalah yang sangat besar adalah iblis batiniah kita sendiri, kebencian, keserakahan, dan ketidaktahuan kita sendiri. Kekhawatiran reaksi orang-orang terhadap krisis bukan dengan solidaritas global, tetapi dengan kebencian, menyalahkan negara lain, menyalahkan etnis dan agama minoritas sebetulnya lebih menakutkan daripada pandemi itu sendiri. Peran kolaboratif PMII sebagai aggregator sangat dinantikan untuk berpartisipasi meretas pandemi sekaligus meneguhkan komitmen kebangsaan ditengah situasi yang serba terbatas.


Kontributor :
Editor : Swandy Tambunan
Publisher : Aulia Fasha
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar