Benarkah Timbul Masalah Psikologis Setelah Adanya PHK Masal ?

Benarkah Timbul Masalah Psikologis Setelah Adanya PHK Masal ?
Suara Pembaca
Mahasiswa Prodi Kesejahteraan Sosial, Universitas Muhammadiyah Malang dan Kader GmnI UMM, Bahana Bela Nusantoro

Oleh: Bahana Bela Nusantoro
(Mahasiswa Prodi Kesejahteraan Sosial, Universitas Muhammadiyah Malang dan Kader GmnI UMM)

Hari ini seluruh dunia masih mencari solusi untuk menghentikan penyebaran virus corona, tak terkecuali Indonesia. Menurut beberapa artikel yang dimuat di beberapa portal berita, virus yang bermula dari negara China ini diketahui keberadaannya pada akhir tahun 2019 silam. Berdasarkan catatan Kemenkes virus tersebut mulai masuk dan menyebar di Indonesia pada awal tahun 2020. Untuk mencegah penyebaran virus yang lebih luas, pemerintah mengeluarkan berbagai macam kebijakan. Kebijakan yang dapat dibilang terkesan gegabah dan kurang pertimbangan matang. Sehingga dari kebijakan yang terkesan gegabah tersebut menggambarkan bahwa pemerintah tidak benar-benar siap menghadapi virus ini. 
    
Sebutlah satu keputusan gegabah yang diambil pemerintah ialah hampir diterapkannya Darurat Sipil untuk memutus mata rantai penyebaran virus tersebut. Namun gelombang penolakan terjadi, karena hal tersebut dirasa tidak sesuai dengan kondisi yang ada dan pada tidak sesuai dengan aturan mengenai Darurat Sipil. Namun demi memutus rantai penyebaran, pemerintah kemudian mengambil kebijakan lain yang bisa lebih diterima oleh masyarakat, yakni pelarangan untuk berkumpul dan berkerumun, yang selanjutnya diikuti oleh keluarnya aturan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di berbagai wilayah dan juga tentunya anjuran untuk WFH (Work From Home).

Seperti yang kita semua ketahui, PSBB merupakan Pembatasan Sosial Berskala Besar dimana masyarakat dilarang untuk berkerumun dan berkumpul. Lalu selanjutnya, ada WFH atau yang biasa dikenal dengan Work From Home atau bekerja dari rumah, yang besar kemungkinannya kurang tepat diterapkan di Indonesia. Hal tersebut bukanlah tanpa alasan, karena jika melihat realita yang terjadi, cukup banyak perusahaan di Indonesia yang masih mengandalkan tenaga kerja untuk menjalankan mesin perusahaannya. Akhirnya kebijakan WFH tidak dapat menyentuh seluruh elemen masyarakyat Indonesia, terkhusus para buruh pabrik.

Berdasarkan data dari BPS (Badan Pusat Statistika) tahun 2019, terdapat sekitar 51 juta buruh di Indonesia, yang artinya lebih dari 35% persen penduduk Indonesia masih menggantungkan hidupnya pada intimasi hubungan manusia dan mesin kerjanya atau sebagai buruh pabrik. Melihat realita ini, tentunya kalangan yang paling terdampak dari adanya aturan-aturan yang dikeluarkan oleh pemerintah ialah kalangan buruh pabrik yang jumlahnya terbilang besar. Di lain sisi, perusahaan juga ingin menjaga neraca keuangannya tetap stabil dalam kondisi yang seperti sekarang ini. Tentunya, jalan pintas penyelesaian masalah yang diambil oleh perusahaan ialah dengan cara pemutusan kontrak kerja dan merumahkan para pekerjanya.

Pemutusan kontrak kerja dan merumahkan para buruh sudah dilakukan oleh banyak perusahaan. Berdasarkan data yang terdapat pada Dirjen Kementrian Ketenagakerjaan per April 2020, terdapat sekitar 2,8 juta pekerja yang telah diputus kontraknya dan dirumahkan. Data tersebut bukanlah data final, bisa saja data tersebut terus naik seiring dengan lamanya kondisi seperti saat ini. Pemutusan kontrak kerja dan merumahkan pekerja tersebut tidak hanya akan berimbas pada kondisi ekonomi para pekerja. Namun lebih jauh lagi, hal tersebut dapat berimbas langsung kepada kesehatan mental atau psikis para pekerja yang di PHK atau dirumahkan secara paksa. 

Dilansir dari Hello Sehat, menyebutkan bahwa seseorang yang kesulitan ekonomi dikarenakan kehilangan pekerjaan, rentan mendapatkan gangguan kesehatan mental. Hal tersebut karena terjadi berbagai tekanan sosial dan kebutuhan untuk menyambung hidup yang tidak dapat di toleransi. Ganguan mental yang akan muncul seperti meningkatnya gangguan kecemasan, depresi, hingga meningkatnya penggunaan obat anti-depresi. Selain itu, juga akan memunculkan gejala gangguan psikosomatik. 

Beberapa dari gangguan mental akibat kehilangan pekerjaan tersebut adalah kecemasan. Meningkatnya Gangguan Kecemasan merupakan tidak terbiasanya seseorang menghadapi suatu musibah, salah satu contohnnya adalah diputus kontrak kerjanya secara tiba-tiba di tempat ia bekerja. Gejala-gejala yang dialami oleh seseorang ketika terkena gangguan kecemasan ialah mudah marah, selalu merasa cemas, susah tidur, hingga sesak nafas. Kemudian Depresi, depresi merupakan gangguan mental yang ditandai dengan sedih yang mendalam dalam waktu yang lama dan mulai putus asa, ini dapat terjadi pada pekerja yang terkena PHK karena corona, terutama pekerja yang tidak memiliki pemasukan lain selain dari gaji pokoknya. Selain karena pemutusan kontrak kerja, depresi bisa dipicu karena adanya tekanan ekonomi yang tidak berubah pada saat yang serba susah seperti sekarang. Ada beberapa gejala yang dialami seseorang jika terkena depresi yaitu seperti selalu merasa tidak berguna, frustasi, turunnya semangat hidup, dan dapat berujung pada bunuh diri. 

Selanjutnya adalah Gangguan Psikosomatis. Psikosomatis adalah penyakit yang melibatkan tubuh dan fikiran. Dimana fikiran mempengaruhi tubuh hingga akhirnya tubuh menjadi lemah dan penyakit bisa mudah masuk ke tubuh atau menjadi bertambah parah. Psikosomatis disebabkan oleh faktor mental seperti stress, dan cemas berlebih, dengan kata lain psikosomatis berhubungan erat dengan dua point yang tertera di atas. 

Menurut penulis, gangguan kesehatan mental tidak bisa dianggap remeh. Seperti yang terjadi di provinsi Jawa Barat, dimana semakin banyak ODGJ (Orang Dalam Gangguan Jiwa) setelah di PHK karena corona. Berdasarkan data yang terdapat pada Kadinkes Jabar tahun 2020, mengungkapkan bahwa meningkatnya orang gila di tengah wabah corona dapat dilihat dari banyaknya kunjungan ke beberapa Rumah Sakit Jiwa (RSJ) yang ada di Jabar. Dengan adanya peningkatan ini, Dinkes Pemprov Jabar akan segera mengambil tindakan penanganan. Langkah sementara yang diambil oleh Dinas Kesehatan Jawa Barat untuk menangani hal tersebut yakni, berkoordinasi dengan dinas kota terkait dan kabupaten di Jabar untuk melacak dan merawat para ODGJ di RSJ.
Saat ini masyarakat hanya butuh kebijakan serius dari pemerintah untuk segera menyelesaikan masalah ini dengan melihat dari berbagai perspektif. Mulai dari ekonomi, sosial, politik, dan yang tak kalah penting yaitu kesehatan mental masyarakatnya. Pengambilan langkah yang lambat seperti sekarang ini bisa saja menciptakan masalah baru di masyarakat, seperti pencurian, perampokan, dan lainnya. Itu disebabkan oleh banyaknya kelompok yang terhimpit dalam sektor ekonomi sehingga mencari jalan pintas untuk memenuhi kebutuhan ekonominya, seperti efek domino yang diungkap oleh filsuf asal Jerman, Karl Marx. Pemerintah harus menjamin kesehatan fisik dan mental rakyatnya yang terkena langsung dampak dari kondisi seperti ini. Meskipun sudah terlihat beberapa upaya dalam pemenuhan kebutuhan pangan di beberapa tempat, namun, tentunya masih ada masalah lain yang menyertai, yakni kurang tepat sasarannya bantuan-bantuan tersebut. 

Secara sederhana, selain harus menjamin kebutuhan pangan para rakyatnya, pemerintah juga harus menjamin bahwa bantuan tersebut sampai pada mereka yang benar-benar membutuhkan. Tidak hanya kepada pemerintah pusat atau daerah, namun seluruh elemen pemerintah dari skala lokal hingga pusat harus berkerja sama dalam mengawal bantuan-bantuan tersebut, agar tepat guna juga tepat sasaran. Karena, jika hanya sebagian pihak yang bekerja mati-matian dalam kondisi ini, sudah barang tentu tidak akan bisa menyelesaikan berbagai masalah yang ada. Maka sudah menjadi suatu keharusan agar semua elemen pemerintahan mampu bergotong royong demi tercapainya tujuan bersama, yakni mampu melewati kondisi ini dengan sangat baik tanpa ada yang harus dikorbankan. 

Untuk menutup tulisan ini, penulis ingin mengutip pidato 1 Juni 1945 yang dikemukakan oleh Ir. Sukarno: “gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjuangan bantu-binantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Ho-lopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong!” Semoga kita semua mampu melewati kondisi ini dengan selamat dan bahagia.

Salam.


Kontributor :
Editor : Swandy Tambunan
Publisher : Aulia Fasha
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar