Viral Adu Mulut Bupati Lumajang vs Bupati Boltim, Prof Hariyono: Masyarakat Butuh Teladan dari Pejabat!

Viral Adu Mulut Bupati Lumajang vs Bupati Boltim, Prof Hariyono: Masyarakat Butuh Teladan dari Pejabat!
Birokrasi
Viral Adu Mulut Bupati Lumajang vs Bupati Boltim

JAKARTA - Video adu mulut antara Bupati Lumajang Thoriqul Haq vs Bupati Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Sehan Salim Landjar viral di media sosial.

Mereka berdua, berseteru soal bantuan untuk masyarakat di tengah wabah virus corona atau covid-19. Dalam video tampak kedua bupati saling memojokkan satu sama lain.

Thoriq mengomentari sikap Bupati Boltim terhadap Menteri Sosial. Sementara, Bupati Boltim Sehan Salim Landjar membalas pernyataan dari Thoriq.

Sehan seakan tidak terima, dengan sindiran yang dilayangkan Thoriq tentang aksi mencak-mencaknya atas kisruh bantuan sosial.

Video adu mulut ini pun, mendapat tanggapan dari Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Prof. Dr.Hariyono, M.Pd.

Dihubungi suaraindonesia.co.id, Prof Hariyono menyampaikan bahwa sebagai pejabat publik seyogyanya tidak perlu bersitegang di ruang publik. 

"Kita butuh keteladanan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," ujar Prof Hariyono, Rabu (06/05/2020).

Menurutnya, adanya perbedaan kebijakan antar pejabat seyogyanya tidak perlu terjadi. Jika di tingkat kementerian seyogyanya dikordinasikan dengan Menko.

Demikian juga di tingkat gubernur dan bupati seyogyanya dikordinasikan dengan Kemendagri, sehingga pejabat gubernur dan bupati langsung komentar yang berseberangan dengan pejabat diatasnya. 

"Para pejabat harus malu, saat rakyat bergotong-royong mengatasi masalah bersama masih ada oknum pejabat yang membuat kebijakan yang berbeda," pungkasnya.

Lanjut Prof Hariyono, Demokrasi memang harus menghargai kebebasan, tetapi menurutnya dalam Demokrasi Pancasila seharusnya mendahulukan musyawarah dan menjaga fatsun politik.

Sesuai dengan falsafah dan nilai nilai luhur bangsa, Prof Hariyono mengatakan seorang pejabat yang berjiwa negarawan dalam bekerja seharusnya tidak mengandalkan pencitraan. 

"Kita sadar bahwa di era informasi saat ini, pekerjaan yang positif layak diliput media. Tetapi pekerjaan yang bermanfaat bagi rakyat walaupun tidak diwartakan di medsos akan dikenang oleh masyarakatnya," tegas alumni GMNI itu.

Maka dari itu, Prof Hariyono menyarankan agar para pejabat politik, politisi dan tokoh masyarakat memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk ikut menciptakan optimisme dalam menatap masa depan bangsa.

Simak video berikut:


Kontributor : Swandy Tambunan
Editor : Chandra Kirana
Publisher : Aulia Fasha
default ads banner CODE: NEWS / BANNER 2 / 468x60

You can share this post!

Komentar